Apakah
sekolah harus selalu formal ? jawabannya tidak!
Di
benak seseorang, pendidikan selalu
identik dengan instansi, memakai seragam
dan berangkat setiap pagi. pada dasarnya untuk meraih sebuah pendidikan tidak
harus selalu dengan sekolah formal, kok bisa? Beberapa tokoh sukses seperti
mantan menteri kelautan ibu Sushi Pujiastuti yang diketahui tidak menyelesaikan
pendidikan formalnya dan memilih beralih ke pendidikan praktis dan pengalaman kerja langsung, dimanah kedua hal tersebut di dapat dari orang tua
beliau ( Informal) dan pengalaman
langsung beliau ( Nonformal). Hasilnya, Bu Susi mampu membangun bisnis besar dan
akhirnya dipercaya menjadi salah satu menteri dengan prestasi gemilang.
Tokoh dunia lainya seperti Thomas Alfa Edison
seorang ilmuan yang memiliki hak 1000 paten temuan diketahui tidak menjalankan
pendidikan formal, alasannya ilmuan tersebut tidak cocok untuk masuk ke sekolah
formal karena lamban, alhasil orang tua ilmuan tersebut memilih untuk mendidik
anaknya di rumah dan belajar secara otodidak, membaca banyak buku, dan
melakukan eksperimen tanpa henti menjadi keseharian, namun siapa sangka dulunya
di tolak di sekolah formal dan beralih ke informal mampu melahirkan seorang ilmuan
jenius.
Tidak hanya itu, kita juga bisa melihat contoh serupa pada sosok-sosok seperti Steve Jobs (pendiri Apple), Mark Zuckerberg (pendiri Facebook), dan Bob Sadino (pengusaha sukses dari Indonesia). Mereka membuktikan bahwa pendidikan nonformal, pengalaman hidup, dan keberanian untuk mencoba sering kali lebih penting daripada hanya memiliki gelar resmi.
Sekolah
Formal memang penting tapi belum cukup!
Sekolah
formal memiliki peranan penting, namun terkadang sekolah formal tidak mampu menangani
sepenuhnya. Dengan begitu hadirnya pendidikan nonformal berperan sebagai
penambah, pelengkap dan pengganti, artinya permasalahan pendidikan yang
sebelumnya tidak mampu di atasi oleh jenjang formal maka bisa di atasi dengan
jenjang nonformal. Pendidikan nonformal sendiri terdiri dari pendidikan
pelatihan, paket kesetaraan, pemberdayaan, atau pendidikan yang di
selenggarakan secara fleksibel. Sasarannya
merupakan seluruh lapisan
masyarakat
dan pastinya tidak dibatasi umur, Sehingga ini selaras dengan prinsip PNF “ Long
Life Learning”. Sebelum kedua jalur pendidikan itu kalian secara tidak
sengaja pernah mengalami pendidikan yang di dapat sejak pertama kali di
lahirkan yang mana itu merupakan pendidikan pertama dan utama, orang yang
berperan adalah orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar itu dinamakan
pendidikan informal.
Pendidikan
Informal: Pengalaman Hidup sebagai Sekolah
Selain
pendidikan formal dan nonformal, terdapat juga jalur pendidikan yang bersifat
informal. Ini merupakan pelajaran yang diperoleh melalui keluarga dan situasi
sehari-hari. Nilai-nilai, karakter, dan keterampilan dasar sering kali
terbentuk dari bimbingan orang tua, interaksi dengan saudara kandung, hingga
pengalaman hidup dalam masyarakat.
Merujuk
pada figur seperti Edison atau Susi Pudjiastuti, keduanya menunjukkan bahwa
pendidikan informal dan nonformal dapat membentuk individu yang kuat, bahkan
mampu melebihi batasan yang ada dalam pendidikan formal.
Pendidikan
Nonformal: Alternatif Lain yang Sangat Penting
Di
sinilah peran pendidikan nonformal muncul. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
mengenai Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan nonformal
berfungsi sebagai tambahan, pelengkap, dan pengganti pendidikan formal, demi
mendukung proses belajar sepanjang hidup.
Pendidikan
nonformal dapat berupa kursus, pelatihan keterampilan, lembaga pembinaan
keterampilan, program kesetaraan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Kelebihannya terletak pada fleksibilitas. Tidak ada batasan usia, waktu, atau
lokasi. Siapapun dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka.
Contoh
yang jelas dapat dilihat pada kursus komputer, kelas pemasaran digital,
pelatihan menjahit, hingga bootcamp pemrograman. Banyak generasi muda yang
berhasil memperoleh pekerjaan atau memulai bisnis melalui jalur ini, meskipun
latar belakang pendidikan formal mereka tidak begitu tinggi. Situasi serupa
juga dapat berlaku bagi orang dewasa yang ingin memperbaiki keterampilan tanpa
harus kembali ke sekolah.
Keterkaitan dengan Kondisi Indonesia Saat ini
Di
Indonesia, masih ada banyak orang yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan
formal mereka karena masalah finansial, aksesibilitas, atau situasi keluarga.
Di sinilah pendidikan nonformal menjadi sangat penting. Program-program
kesetaraan seperti Paket A, B, dan C menawarkan peluang bagi individu yang
terputus dari pendidikan untuk melanjutkan studi mereka.
Selain
itu, perkembangan teknologi digital menyediakan lebih banyak kesempatan. Saat
ini, siapa saja dapat belajar melalui kursus daring, webinar, atau platform
pembelajaran online. Generasi muda dapat meningkatkan keterampilan dalam
digital marketing, desain grafis, maupun pemrograman tanpa harus berada di
bangku kuliah. Ini menunjukkan bahwa pendidikan nonformal semakin relevan dan
sangat dibutuhkan di era modern ini.
Pendidikan
tidak selalu berkaitan dengan seragam dan kelas. Banyak individu menunjukkan
bahwa pendidikan melalui jalur nonformal dan informal juga dapat menghasilkan
keberhasilan. Sekolah formal memiliki peran penting, namun itu tidaklah cukup.
Pendidikan nonformal muncul sebagai tambahan dan perpanjangan, serta memberikan
kesempatan untuk belajar yang lebih fleksibel bagi semua kelompok umur. Ini
adalah gambaran nyata dari prinsip pembelajaran seumur hidup—bahwa belajar bisa
dilakukan di mana saja, kapan saja, dan sepanjang hidup.
Pada
akhirnya, hal yang paling utama adalah pemahaman bahwa pendidikan sejati
merupakan perjalanan pembelajaran yang tidak pernah berakhir. Proses belajar
dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan berlangsung seumur hidup. Jadi,
mari kita sadari: institusi pendidikan formal bukanlah satu-satunya cara,
karena keberhasilan juga bisa muncul dari pendidikan nonformal maupun informal.
Komentar
Posting Komentar